Rabu, 03 April 2019

Sarjana kalah saing SDTT?


26 tahun.. benar, beberapa bulan lagi aku menginjak usia 26 tahun. Rasanya baru saja kemarin aku di OSPEK. Nyatanya aku sudah jadi sarjana saja. Sebagai mantan mahasiswa yang lulus tidak tepat waktu alias molor, waktu lulus sudah bukan lagi usia senang2 untuk menikmati kelulusan. Aku lulus tahun lalu, nyaris DO. 

Seusainya sarjana, bingung melanda, mau jadi guru tapi gajinya nggak manusiawi, mau jadi pengusaha tapi merasa belum cukup ilmu, belum lagi modal. Selama ini aku hidup dengan kerja serabutan. Kadang menjahit, kadang merias, kadang menghenna, apa saja yang penting aku bisa menyelesaikan sarjanaku dan aku bisa makan untuk sehari-hari.

Beberapa bulan ini sedang sepi job, tapi aku nekat untuk investasikan semua tabungan buat olshop. Beruntung aku bisa jahit, jadi belum ada ongkos produksi yang aku keluarkan. Tapi konsekuensinya aku tidak menerima orderan. Tabungan mulai menyusut waktu aku mulai bayar jasa fotografer dan model, belum lagi aku bayar endorse. Huh…

Sebulan kemudian, kembali aku ditagih uang kost. Hidup ini keras kawan. Mungkin kalian mikir, kenapa nggak balik kampung aja, di kampung apa2 murah, ngga perlu mikirin besok makan apa/mau ngirit gimana, semua sudah tersedia. Kalau hidup cuma sekedar makan dan minum jelas aku  hidup. Tapi bukan itu. Masih ada mimpi kecil yang belum terwujud, aku ingin hidup layak. 

Punya rumah sederhana dipinggir kota, punya usaha yang bisa menghidupi keluarga, bisa mandi dengan air bersih, bisa menjadi donator pembangunan masjid. Ah… nyatanya aku kalah dengan seorang sdtt (sekolah dasar tidak tamat) yang sekarang punya tanah sak amban-amban, punya ternak dimana-mana. Ah… rumput tetangga memang selalu Nampak lebih hijau.

 Ingat kawan, jangan tunda lulusmu, atau kalian akan berakhir sepertiku. lupa rasanya dihargai, sebelum terlalu lupa, do the best

Tidak ada komentar:

Posting Komentar